Ada banyak cara untuk mengenalkan seni kepada anak-anak, salah satunya dengan memberikan mereka ruang untuk bebas berkreasi. Hal tersebut diwujudkan melalui kegiatan pembuatan karya kolase bersama siswa kelas 5 SDN Sendangagung 2, Desa Sendangagung, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, yang digagas oleh Fadhilah Aditya Ahmad, mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret, Kelompok 176 pada Kamis (6/8/26)
Kegiatan yang mengangkat tema “Jejak Ramayana dalam Imajinasi Anak” tersebut mengajak siswa mengolah biji-bijian dan kardus bekas menjadi karya seni kolase dengan tokoh Anoman sebagai desain utama. Gagasan tersebut tercetus melihat kondisi lapangan, dimana masih terdapat siswa yang merasa kurang percaya diri terhadap hasil karya mereka. Beberapa anak terkadang merasa bahwa karya yang dibuatnya kurang bagus dibandingkan dengan karya teman. Berlatarkan kondisi tersebut, kegiatan ini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan sebuah karya seni, tetapi juga menjadi wadah bagi siswa untuk belajar percaya diri, berani berekspresi, dan menghargai hasil karya sendiri maupun karya teman.
“Kak ini bikin karya kaya gini ternyata seru ya, diberi kebebasan buat memilih bahan terus juga yang terbaik dapet hadiah dari kak Adit, semoga KKN tahun depan lebih seru dari ini, karena ini seru banget, nggak bohong deh kak” ungkap Pricilia Caroline Chandra, Siswa kelas 5 SDN Sendangangung 2.
Mengenalkan Seni melalui Tokoh Anoman.
Tema “Jejak Ramayana dalam Imajinasi Anak” dipilih untuk memberikan sentuhan budaya dalam kegiatan seni. Tokoh Anoman digunakan sebagai desain utama karena memiliki bentuk yang cukup menarik dan dapat dikembangkan oleh siswa melalui berbagai macam material. Meskipun menggunakan desain Anoman sebagai acuan, siswa tidak diwajibkan membuat karya dengan hasil yang sama persis. Mereka justru diberikan kebebasan untuk menentukan sendiri bagaimana karya tersebut akan dibuat. Selain kolase, siswa juga diajak memanfaatkan kardus bekas sebagai bahan pembuatan figura. Penggunaan bahan bekas ini menjadi cara sederhana untuk mengenalkan bahwa barang yang sudah tidak terpakai masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi benda yang memiliki nilai guna dan nilai seni.
Dilaksanakan dalam Tiga Pertemuan.
Kegiatan dilaksanakan secara bertahap selama tiga kali pertemuan. Kamis tanggal 23 Juli 2026, diadakan pengenalan kepada siswa mengenai kolase, bahan yang dapat digunakan, serta tema yang akan diangkat. Pertemuan kedua, pada hari Kamis tanggal 30 Juli 2026, siswa mulai masuk ke tahap utama, yaitu membuat kolase. Tahap selanjutnya yaitu pembuatan figura dengan kardus bekas yang sudah disiapkan. Pertemuan terakhir dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 6 Agustus 2026, merupakan kegiatan terakhir sekaligus penutup dari rangkaian kegiatan bersama adik-adik kelas 5 SDN Sendangangung 2. Kegiatan ini berupa pemberian hadiah dan apresiasi karya dalam bentuk pameran yang dipilih 5 terbaik untuk ditampilkan di mading. Meskipun demikian, seluruh karya tetap mendapatkan penghargaan karena setiap karya dan proses memiliki nilai masing-masing. Perbedaan hasil bukan berarti salah, karena setiap orang memiliki cara dan imajinasi yang berbeda.
Tidak hanya meningkatkan kreativitas, kegiatan ini juga memiliki kaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), yang dimana sejalan dengan SDGs 4: Pendidikan Berkualitas, karena memberikan pengalaman belajar yang kreatif dan mendorong perkembangan potensi siswa di luar pembelajaran akademik.
Pemanfaatan kardus bekas sebagai bahan figura juga memiliki keterkaitan dengan SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Siswa diajak melihat bahwa barang bekas tidak selalu harus dibuang, tetapi masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi karya yang memiliki nilai seni.
Akhirnya, kegiatan “Jejak Ramayana dalam Imajinasi Anak” bukan hanya sekadar membuat kolase dari biji-bijian, akan tetapi lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang bagi siswa kelas 5 SDN Sendangagung 2 untuk belajar berani mencoba, bebas berekspresi, menghargai karya serta membangun kepercayaan diri terhadap hasil kreativitas mereka sendiri. Mahasiswa KKN UNS 176 berharap pengalaman berkesenian ini dapat terus memberikan inspirasi kepada siswa untuk tidak takut berkarya. Setiap karya adalah jiwa karena setiap anak memiliki imajinasi dan cara berekspresi yang berbeda. (FadhilahAdityaAhmad/uns)